SATRIA SAVING MODE
Energy Saving Mode Using CSS3

Move your mouse to go back to the page!
Gerakkan mouse anda dan silahkan nikmati kembali posting kami!

Copyright * Maret 2012 * satrianugrahaaa.blogspot.com - All rights reserved

Sabtu, 23 Maret 2013

Teori Komunikasi Sosial dan Pembangunan

A.      Teori disonansi kognitif

Tidak diragukan lagi sebagian besar penelitian yang terkait dengan sikap, perubahan sikap dan persuasi masuk dalam kelompok teori yang dinamakan teori konsistensi. Seluruh teori yang berada dibawah paying teori konsistensi memiliki ide yang sama yaitu, bahwa manusia akan selalu merasa lebih nyaman dengan sesuatu yang tetap (konsisten) daripada hal-hal yang tidak tetap  (inkonsisten). Konsistensi merupakan prinsip penting dan teratur yang ada dalam proses kognitif. Dan perubahan sikap terjadi sebagai akibat adanya informasi yang menggangu keteraturan ini. Walapun istilah atau konsep yang digunakan pada teori berbeda-beda, namun asumsi dasar mengenai konsistensi tetap menjadi acuan utama teori-teori itu.
Menurut teori-teori konsistensi, manusia selalu mencari keseimbangan (homeostasis) dan sistem kognitif yang dimiliki manusia menjadi alat utama untuk mencapai keseimbangan ini. Kita akan meninjau dua teori yang sangat terkenal mengenai konsistensi kognitif yaitu teori “ketidaksesuaian kognitif” (cognitive dissonance) oleh Leon Festinger dan teori mengenai “kepercayaan, sikap dan nilai” yang dikemukakan oleh Milton Rokcach. Kita memilih dua teroi ini karena memberikan penjelasan yang relative cukup lengkap mengenai proses konsistensi kognitif. Kita mulai dengan teori disonansi kognitif.
Teori yang dikemukakan Leon Festinger menganai disonansi kognitif atau cognitive dissonance (ketidakseimbangan kognitif). Merupakan salah satu teori terpenting dalam ilmu psikologi sosial , namun demikian teori ini juga menjadi bagian dalam kelompok teori sibernetika karena membahas sistem berpikir manusia. Selama bertahun-bertahun teori disonansi kognitif ini telah mendorong para ahli melakukan sejumlah besar penelitian yang menghasilkan berbagai interpretasi, perkiraan, dan juga kritik.
Menurut Festinger dalam teorinya, manusia membawa berbagai  macsm unsur (elemen) kognitif dalam dirinya seperti; elemen sikap,persepsi, pengetahuan, dan elemen tingkah laku (behavior). Masing-masing elemen itu tidak terpisah satu sama lain namun saling memengaruhi dalam suatu sistem yang saling berhubungan. Masing-masing elemen akan memilih salah satu jenis hubungan dari tiga jenis hubungan yang mungkin ada dengan masing-masing elemen lainnya.
Jenis hubungan pertama disebut dengan hubungan nilai atau tidak relevan (irrelevant). Jenis hubungan ini tidak memberikan pengaru apa-apa kepada masing-masing elemen yang terdapat dalam sistem hubungan kedua, adalah hubungan konsisten, atau disebut juga konsona, yaitu hubungan yang terjadi dengan salah satu elemen yang memperkuat elemen lainnya. Jenis hubungan ketiga adalah hubungan yang tidak sesuai atau inkonsisten atau disonansi (dissonance). Hubungan inkonsisten atau disonansi  ini terjadi bila one element would not be expected to follow from the other (salah satu elemen tidak diharapkan untuk mengikuti elemen yang lain).
Inkonsistensi atau disonansi itu sendiri muncul karena adanya dua variabel yaitu: 1) bobot dari elemen kognitif dan 2) jumlah elemen yang terlibat dalam hubungan yang inkonsisten itu. Dengan kata lain, jika anda memiliki sejumlah hal yang inkonsisten dan semuanya merupakan hal yang penting bagi anda maka pengetahuan anda mengenai sejumlah lemak tertentu yang berbahaya bagi kesehatan tidak akan memberikan pengaruh pada kebiasaan makan anda.
Festinger membayangkan sejumlah metode yang digunakan manusia untuk mengatasi masalah ketidaksesuaian kognitif ini.
-          Pertama, anda mungkin akan mengubah satu atau lebih elemen kognitif yang ada. Misalnya elemen tingkah laku (tindakan) dan/atau elemen sikap. Misalnya, ketika terjadi konsistensi antar makan daging berlemak dengan pengetahuan anda mengenai bahaya lemak bagi kesehatan maka anda berupaya mengatasi masalah ini dengan menjadikan diri anda vegetarian setelah makan daging, atau anda mulai percaya bahwa lemak tidak terlalu berpengaruh bagi kesehatan (kegemukan) tetapi factor genetiklah yang lebih berpengaruh.
-          Kedua, menambahakan elemen baru dalam hubungan yang inkonsisten itu. Misalnya anda mulai membeli dan mengkonsumsi obat-obatan antikolesterol dan/atau produk kesehatan lain seperti multi vitamin dan sebagainya setelah anda makan daging steak yang lezat tetapiberlemak.
-          Ketiga,  anda  mungkin akan mempertimbangkan kembali bahwa disonansi yang terjadi bukanlah sesuatu yang penting. Misalnya anda menilai apa yang anda makan tidaklah sepenting kondisi pikiran sebagai factor utama dalam menunjang kesehatan.
-          Keempat, anda berupaya mencari informasi lain yang mendukung tindakan anda makan daging berlemak. Misalnya anda akan mencari artikel atau literatur yang menjelaskan manfaat atau keuntungan makan daging berlemak bagi kesehatan.
-          Kelima, anda mulai mengurai disonansi yang terjadi dengan mendistorsi atau menyalahartikan informasi yang terlibat. Hal ini dapat terjadi jika anda berpandangan bahwa walaupun daging mengandung lemak yang tidak baik bagi kesehatan namun daging memiliki unsur lain yang bermanfaat seperti zat besi dan protein.

Contoh sederhana:
>Manusia memiliki hasrat akan konsistensi pada keyakinan, sikap dan perilakunya. Disini menekankan sifat dasar manusia yang mementingkan stabilitas dan konsistensi.
 >Disonansi diciptakan oleh inkonsistensi psikologis. Teori ini merujuk pada fakta bahwa kognisi-kognisi harus tidak konsisten secara psikologis. Contoh; seseorang akan merasa tidak konsisten secara psikologis ketika ia tidak melakukan apapun sementara ia sebenarnya ingin membantu.
 >Disonansi adalah perasaan tidak suka yang mendorong orang untuk melakukan tindakan-tindakan dengan dampak yang dapat diukur.
 >Disonansi akan mendorong usaha untuk memperoleh konsonansi dan usaha untuk mengurangi disonansi.
Sumber buku: TEORI KOMUNIKASI individu hingga massa (MORISSAN). Hal: 97-100.

B.      Teori pertukaran sosial: Kelly dan Thibault

Dalam buku mereka yang berjudul “the social phycologi of groups, thibault dan Kelly ( dalam Goldberg dan Larson, 1985:54) memusatkan perhatian terutama pada kelompok yang terdiri dari 2 orang anggota atau lebih. Mereka merasa yakin bahwa usaha memahami tingkah laku yang kompleks dari kelompok-kelompok besar mungkin dapat di peroleh dengan cara menggali pola hubungan 2 orang. Meskipun penjelasan mereka tentang pola tingkah laku 2 orang bukan sekedar suatu pembahasan tentang proses komunikasi dalam kelompok dua anggota, beberapa rumusan mereka mempunyai relevansi langsung dengan studi tentang komunikasi kelompok.
Model thibault dan Kelly mendukung asumsi-asumsi yang di buat oleh homans dalam teorinya tentang proses pertukaran sosial, dimana interaksi manusia mencangkup pertukaran sosial dan mencakup pertukaran barang dan jasa, dan tanggapan yang muncul dari individu lainnya berkaitan dengan imbalan (reward) dan pengeluaran. Apabila imbalan tidak cukup, atau bila pengeluaran melebihi imbalan, interaksi akan tehenti atau individu-individu yang terlibat didalamnya akan mengubah tingkah laku mereka dengan tujuan mencapai apa yang mereka cari imbalan dan pengeluaran menentukan interaksi di antara individu-individu. Interaksi akan tetap terpelihara apabila imbalan tidak dibawah kepuasan mereka.

Contoh sederhana:
  Manusia adalah makhluk rasional.
Bahwa manusia adalah makhluk rasional merupakan asumsi yang penting bagi teori pertukaran sosial. Standar yang digunakan manusia untuk mengevaluasi pengorbanan dan penghargaan bervariasi seiring berjalannya waktu dan dari satu orang ke orang lainnya.
Sumber buku: TEORI KOMUNIKASI; perspektif, ragam, dan aplikasi (H. Syaiful Rohim M,Si). Hal: 90.

C.      Teori keseimbangan: Heider

Teori ini dirumuskan oleh Fritz Heider dalam bukunya “the psychology of interpersonal relations”. Teori tersebut diuraikan kembali oleh Goldberg  dan Larson (1985:49). Ruang lingkup teori keseimbangan (balance theory) dari Heider ialah mengenai hubungan –hubungan antarpribadi. Teori ini berusaha menerangkan bagaimana individu-individu sebagai bagian dari struktur sosial, misalnya sebagai suatu kelompok cenderunguntuk menjalin hubungan satu sama. Tentunya salah satu cara bagaimana suatu kelompok dapat berhubungan, ialah dengan menjalin komunikasi secara terbuka.
Teori Heider memusatkan perhatiannya pada hubungan intra-pribadi (intra personal) yang berfungsi sebagai daya tarik. Dalam hal ini daya tarik menurut Heider adalah semua keadaan yang kognitif yang berhubungan dengan perasaan suka dan tidak suka terhadap individu-individu dan obyek-obyek lain. Dengan demikian, teori Heider berkepentingan secara  khusus dengan apa yang diartikan sebagai komunikasi intra-pribadi yaitu sangat menaruh perhatian pada keadaan-keadaan intra-pribadi tertentu yang mungkin mempengaruhi pola-pola hubungan dalam suatu kelompok.
Teori keseimbangan dari Heider menggunakan symbol “L” untuk menandakan hubungan “skala” “L” (like) dapat berarti beragam perasaan positif yang dimiliki seorang anggota terhadap orang lain atau terhadap suatu objek tertentu, seperti perasaan suka pada anggota lain, sependapatdengan anggota lain menyetujui suatu tindakan, dan lain sebagainya. Sedangkan symbol “L_” (lawan dari symbol “L”) menyatakan perasaan-perasaan negative seperti rasa benci, tidak suka atau tidak setuju. Symbol “U” berarti hubungan pembentukan unit (unit-forming relationship) dan merupakan persamaan arti dari “berkaitan dengan”, “kepunyaan”, “memiliki”, serta ungkapan-ungkapan lain yang hamper serupa. Kebalikan symbol “U” adalah “U_”.
Tiga symbol lain yang sangat penting dalam sistem Heider, yaitu symbol “P” yang menunjukan orang (persons), “O” yang berarti orang lainatau kelompok laindan “X” yang berarti objek (benda).
Sumber buku: TEORI KOMUNIKASI; perspektif, ragam, dan aplikasi (H. Syaiful Rohim M,Si). Hal: 87-88.
D.      Teori A-B-X dari Newcomb

Sistem A-B-X dari Newcomb memperluas teori hubungan intrapribadi dari Heider sampai pada interaksi yang terjadi antara anggota dari kelompok yang hanya terdiri dari 2 orang anggota. Model dari Newcomb melibatkan 3 unsur, yaitu A dan B, yang mewakili 2 orang individu yang berinteraksi dari X sebagai objek pembicaraan (komunikasi). Menurut Newcomb, tingkah laku komunikasi terbuka antara A dan B dapat diterangkan melalui kebutuhan mereka untuk mencapai keseimbangan atau keadaan simetris antar asatu sama lain dan juga terhadap X. komunikasi terjadi karena A harus berorientasi pada B, pada X dan orientasi B pada X. untuk mencari keadaan yang simetris, A berusaha untuk melengkapi dirinya dengan informasi tentang orientasi B terhadap X dan ini dapat dilakukan melalui interaksi.
Oleh karena itu keseimbangan atau keadaan simetris perlu dicari, A mungkin terdorong untuk mempengaruhi atau mengubah orientasi B terhadap X, jika A menemukan keadaan yang tidak seimbang di antara mereka. B dengan sendirinya juga akan mempunyai dorongan yang sama terhadap orientasi A. besarnya pengaruh yang akan ditanamkan oleh A dan B terhadap satu sama lain, serta kemungkinan usaha masing-masing dalam meningkatkan keadaan simetris melalui tindakan komunikasi akan meningkat pada saat daya tarik (“L” dari Heider menunjukan “daya tarik”), dan insensitas sikap terhadap X meningkat (Goldberg dan Larson, 1985:51).
Contoh kasus sederhana:
A : Anto : pelajar yang gemar maen game
B : Budi  : pelajar yang gemar jalan-jalan
X : tugas kelompok

Anto dan Budi adalah teman sekelas, mereka satu kelompok mendapat tugas dari guru sekolahnya yang harus diselesaikan minggu ini. Kebetulan minggu ini Budi akan mengadakan acara jalan bareng bersama keluarga besarnya , sedangkan Anto setiap pulang sekolah ia selalu bermain game kesukaannya.
Sumber buku: TEORI KOMUNIKASI; perspektif, ragam, dan aplikasi (H. Syaiful Rohim M,Si). Hal: 88-89.

E.       Teori proses perbandingan social: Festinger

Dalam teorinya Festinger membedakan antara kenyataan fisik dengan kenyataan sosial. Apabila pendapat,sikap, dan keyakinan kita dapat diukur secara fisik, berarti kita berhubungan dengan kenyataan fisik, sehingga kita tidak perlu lagi berkomunikasi. Akan tetapi bila pendapat, sikap atau keyakinan kita tidak didasarkan pada kejadian yang mudah diukur, dan kalau dapat ditemukan bukti-bukti yang mendukung atau mungkin membantah pendapat serta sikap keyakinan tersebut, maka kita berhubungan dengan keadaan sosial, dan ini dapat diukurdengan baik dengan cara berkomunikasi dengan orang lain yang kita anggap pentingbagi kita. Jadi komunikasi acapkali timbul karena adanyakebutuhan-kebutuhan individu untuk membandikan pendapat, sikap,keyakinan dan kemampuan mereka sendiri dengan orang lain.
Menurut pendapat Fetinger, dorongan yang kita rasakan untuk berkomunikasi tentang suatu kejadian dengan anggota lain dalam kelompok akan meningkat bila kita menyadari bahwa kita tidak setuju dengan suatu kejadian, apabila kejadian itu makin menjadi penting dan apabila sifat keterikatan kelompok juga meningkat. Sebagai suatu anggota kelompok, kita lebih cenderung mengarahkan komunikasi kita tentang suatu kejadian pada mereka yang kelihatannya paling setuju dengan kita dalam hal kejadian tersebut. Kita juga cenderung untuk mengurangi komunikasi dengan mereka yang kita tidak ingin lagi ikut serta sebagai anggota kelompok. Jika ternyata anggota kelompok yang menjadi sasaran penyampaian pendapat-pendapat kita menunjukan gejala akan berubah pikiran, maka dorongan yang kita rasakan untuk berkomunikasi dengan individu tersebut akan meningkat. Penjelasan tentang teori perbandingan sosial dari Festinger di atas disadur dari Goldberg dan Larson (1985:52-53).
Kebutuhan ini dapat dipenuhi dengan membandingkan diri dengan orang lain.Ada 2 hal yang akan dibandingkan:
1.       Pendapat
Contohnya: A berbeda pendapat dengann B, bisa saja A yang mengubah B atau sebaliknya.perubahan pendapat lebih mudah terjadi daripada perubahan kemampuan.
2.       Kemampuan
Contohnya: Dalam perbandingan kemampuan terdapat dorongan searah menuju keadaan yang lebih baik atau kemampuan yang lebih tinggi. A mampu mendapat nilai 100, B mendapat nilai 70, maka B merasa harus meningkatkan kemampuan agar dapat mendekati A.
Dalam proses perbandingan manusia cenderung memilih orang sebaya atau rekan sendiri untuk menjadi perbandingan. Untuk mendapatkan penilaian yang seimbang,tidak berat sebelah terhadap apa yang dilakukan.
Berhentinya Perbandingan
Jika perbedaan pendapat atau kemampuan dalam kelompok terlalu besar,ada kecenderungan untuk menghentikan perbandingan tersebut.Penghentian perbedaan karena kemampuan akan menjadi ajang kompetitif yang positif.Tapi penghentian perbandingan karena perbedaan pendapat akan diikuti perasaan bermusuhan atau kebencian.
Sumber buku: TEORI KOMUNIKASI; perspektif, ragam, dan aplikasi (H. Syaiful Rohim M,Si). Hal: 89-90.
F.       Teori sosiometris Moreno

Sosiometris dapat diartikan sebagai pendekatan teoritis dan metodologis terhadap kelompok-kelompok yang di ciptakan mula-mula oleh Moreno dan kemudian dikembangkan oleh Jennings dan oleh yang lain-lain. Pada dasarnya berhubungan dengan “daya tarik” (attractive)dan “penolakan” (rejection) yang dirasakan oleh individu-individu terhadap satu sama lain dan implikasi perasaan-perasaan ini bagi pembentukan dan struktur kelompok. Suatu uji coba pada umumnya mencangkup pertanyaan-pertanyaan yang meminta anggota-anggota kelompok untuk saling menentukan peringkat mereka berdasarkan efektivitas dalam melaksanakan tugas dan daya tarik antarpribadi. Suatu analisis terhadap uji coba memberikan gambaran tentang  berbagai konfigurasi sosial atau struktur yang telah dikembangkan oleh anggota kelompok.  
Meskipun sosiometris tidak langsung berkepentingan dengan komunikasi, struktur sosiometris dari suatu kelompok tak bisa di sangkal berhubungan dengan beberapa hal yang terjadi dalam komunikasi kelompok. Tampaknya cukup masuk akal untuk menganggap bahwa individu-individu yang merasa tertarik satu sama lain dan yang saling menempatkan diri pada peringkat yang tinggi, akan lebih suka berkomunikasi dengan anggota-anggota kelompok yang saling membenci. Bagaimanapun juga, hubungan yang khusus yang terdapat antara komunikasi kelompok dan struktur sosiometris kelompok masih perlu ditentukan (Goldberg dan Larson 1985:55).
contoh sederhana:
Dalam situasi  rapat ada beberapa orang yang benar-benar tertarik untuk mengikuti rapat tersebut dan ada juga beberapa orang yang kurang bahkan tidak tertarik untuk mengikuti rapat tersebut.
Sumber buku: TEORI KOMUNIKASI; perspektif, ragam, dan aplikasi (H. Syaiful Rohim M,Si). Hal: 90-91.

 DAFTAR PUSTAKA

TEORI KOMUNIKASI individu hingga massa (MORISSAN)
TEORI KOMUNIKASI; perspektif, ragam, dan aplikasi (H. Syaiful Rohim, M,Si)
- Ilmu Komunikasi Prof.Drs.Onong Uchajana Efendy M,A 
Teori-Teori Komunikasi, Drs. Jalaludin Racmat Msc

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar